2
Jumat, 05 Mei 2023
Update #2: Layanan Kesehatan BWA X MERC Menjangkau Perkampungan Terpencil di Kepulauan Papua Barat Daya
Pagi itu langit Salawati sangat cerah. Hambusan anginnya menyejukkan udara yang terasa hangat khas perkampungan pesisir. Sejak semalam tim MERC telah menyiapkan berbagai peralatan medis dan obat-obatan untuk khitanan massal pada hari Jumat tanggal 10 Maret 2023 ini. Warga mulai berdatangan mengantarkan putra-putranya yang hendak disunat di Madrasah Aliyah Salawati saat matahari mulai meninggi. Mereka datang dari kampung-kampung yang ada di Pulau Salawati, diantaranya Kampung Kalobo, Kampung Sakabu, Kampung Waibo dan Kampung Waijan yang secara administratif berada dalam wilayah Distrik Salawati Tengah, Kabupaten Raja Ampat. 81 anak terdaftar sebagai peserta.

Fasilitas Kesehatan Minim di Pulau Salawati
Di tengah keramaian acara, tim BWA menyapa salah seorang tokoh masyarakat bernama Pak Aswad yang merupakan Kepala Puskesmas Persiapan di Kalobo. Beliau telah mengabdi untuk kesehatan masyarakat di Salawati Tengah selama belasan tahun. Bersama tim medis yang sebagian besar merupakan perawat di bawah kepemimpinan beliau, dengan berbagai kekurangan baik peralatan, gedung, ruang tindakan hingga minimnya obat-obatan, beliau tetap berusaha memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat sekitar. Kami diajaknya mengunjungi puskesmas persiapan yang beliau pimpin untuk mengetahui kondisinya.

(Pak Aswad, Kepala Pustu Kalobo)

(Ibu Berlina, salah satu Perawat Pustu)
Salah satu tim beliau, ibu Berlina, mengungkapkan bahwa para dokter dan perawat harus menggunakan peralatan milik masing-masing karena tidak tersedia peralatan medis di Puskesmas Persiapan/Puskesmas Pembantu (Pustu). Selain belum memiliki peralatan medis yang cukup, Pustu tempat mereka mengabdi melayani masyarakat juga minim obat-obatan, bahkan stok yang ada sering kadaluarsa. Para tenaga kesehatan di Pustu Kalobo seringkali berinisiatif untuk belanja obat-obatan dengan dana pribadi terlebih dulu ke Sorong dan berharap nanti dananya bisa terganti bila ada warga yang berobat dan mampu membayar biaya pengobatan dan harga obatnya. Jika warga yang berobat tak mampu bayar, ya uang belanja obat-obatan tidak kembali.
Pulau Yefman
Dari pulau Salawati kami menyebrang kembali ke Pulau Yefman, untuk memberikan layanan kesehatan di pulau tersebut. Di Pulau yefman tim medis MERC memberikan layanan khitanan gratis yang diikuti oleh 4 orang anak.

(Pelayanan Kesehatan di Pulau Yefman)
Pulau Yefman adalah pulau yang menjadi lokasi pertama kali bandara bagi mereka yang hendak menuju Sorong, sebelum dibangun bandara baru di Kota Sorong. Di Pulau ini terdapat 200 KK dengan 60% penduduknya beragama Islam. Pada kesempatan ini kami juga dapat berdiskusi dengan salah satu tokoh masyarakat Pulau Yefman, yakni Bapak Ibrahim.

(Tim Bersama Bapak Ibrahim)
Beliau juga merupakan Kepala Sekolah salah satu SD Negeri di Pulau Yefman. Beliau sampaikan bahwa di Pulau Yefman baru ada fasilitas kesehatan berupa Pustu. Kebanyakan warga lebih memilih mengakses layanan pengobatan di kota Sorong yang berjarak 1-2 jam perjalanan laut dengan menggunakan speedboat dari Pulau Yefman karena minimnya peralatan penunjang penanganan medis di Pulau Yefman.

(Khitanan Masal)
Seusai kegiatan layanan kesehatan di Pulau Yefman, tim bertolak kembali ke Sorong, untuk berikutnya melaksanakan kegiatan di Kp. Katimin Kelurahan Matawolot, Salawati daratan, Kab. Sorong. Di Katimin, 25 anak laki-laki mengikuti layanan sunnatan masal. Salah satu diantara peserta beragama Nasrani.
Sebagian besar warga Katimin merupakan Transmigran dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang datang pada tahun 1970an. Kini mereka telah berkembang dan menjadi pemukiman yang cukup besar di Kab. Sorong dan berbaur dengan baik dengan warga lokal Matawolot, bahkan telah mengalami asimilasi melalui hubungan pernikahan.
Waisai, Napirboi dan Teluk Maylibit
Beo, Arawai, Lopintol, Warmasen, adalah beberapa kampung yang terletak di pesisir-pesisir pantai di sepanjang Teluk Maylibit, di Pulau Waigeo, Kabupaten Raja Ampat. Pulau Waigeo pusat pemerintahan Kabupaten Raja Ampat, yaitu Kota Waisai, berada. Kampung-kampung tersebut, meski masih berada di dalam satu pulau dengan Kota Waisai, tetapi hanya bisa ditempuh menggunakan perahu. Satu-satunya akses menuju kampung-kampung tersebut adalah jalur laut. Dari Waisai kami menempuh perjalanan laut menggunakan speedboat hingga berjam-jam, melawan arus teluk yang cukup deras untuk menyambangi satu-persatu kampung di tepian pantai.

(Gambar letak Pulau Waigeo dari Kota Sorong)

(Letak Teluk Maylibit di Pulau Waigeo)
Di sepanjang teluk Maylibit tersebut kami memberikan pelayanan kesehatan khitanan massal kepada 55 anak laki-laki yang terdapat di Beo, Arawai, dan Lopintol. Di kampung-kampung tersebut tidak ada fasilitas kesehatan. Puskesmas pembantu terdekat ada di kampung Beo yang merupakan sebuah pulau yang berada di tengah-tengah perairan Teluk Maylibit yang juga harus ditempuh dengan perahu 1-2 jam perjalanan laut, karena hanya ada perahu ketinting kecil yang warga miliki. Fasilitas yang lebih baik, yaitu Rumah Sakit, hanya ada di Kota Waisai yang juga hanya bisa ditempuh melalui jalur laut selama 3-4 jam. Menikmati layanan kesehatan yang memadai menjadi hal yang mewah bagi masyarakat di pulau-pulau tersebut.

(Pak Aman Gusti)
Lokasi-lokasi di kepulauan ini tentunya hanya bisa dijangkau dan dihubungkan dengan transportasi laut. Karena itu menurut Pak Aman Gusti, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Raja Ampat, biaya operasional pelayanan kesehatan menjadi sangat tinggi dan membutuhkan juga mobilitas tinggi dengan didukunga SDM yang mumpuni.
Karena itu menurut beliau adanya layanan kesehatan yang mobile yang bisa menjangkau lokasi-lokasi kampung-kampung yang hanya bisa diakses lewat jalur laut itu menjadi sangat penting dan dibutuhkan masyarakat.
